Senyuman
Itu
Oleh
: Yohanes Hadinata S
Setelah aku pulang dari kuliahku yang cukup
membuat pusing kepalaku karna harus bertemu dosen kiler yang mengajar di
jurusan yang aku ambil. Meski dari perawakannya terlihat feminim tapi dosenku
yang satu itu bisa di bilang lady killer karena memang dia menakutkan bagiku,
apalagi ketika dia tau aku terlambat masuk kelasnya, bisa-bisa nilai aku jadi F
ntar.
Baru aku ingat aku ada janji dengan Ernie,
wanita yang tidak sengaja aku temui saat di rumah sakit. Setelah kemarin kami
saling mengenal dan juga aku sempatkan untuk mengantarnya pulang karena dia
tidak membawa kendaraan tak lupa aku meminta nomor ponselnya agar memudahkan
aku untuk menghubunginya. Ini semua aku lakukan mungkin karena aku menyukainya
saat kami pertama kali bertemu.
Akhirnya kunyalakan mesin mobilku dan melaju
pergi dari area parkir. Waktu yang aku tunggu-tunggu datang pikirku,ku arahkan
perjalanan kearah kampus UNY tempat Ernie berkuliah. Ernie mengambil jurusan
Administrasi perkantoran disana,katanya dia ingin menjadi seorang sekertaris
yang handal.Kemampuannya untuk bersosialisasi membuat aku yakin dia pasti akan
bisa menjadi seorang sekertaris yang handal.
Setelah sampai di pelataran area kampus UNY
aku arahkan mobilku masuk kedaerah area kampus jurusan Perkantoran, karena
memang disanalah kelas Ernie sedang berlangsung, kuparkirkan mobilku disekitar
situ dibawah rimbunnya pohon, aku ingat kemarin aku janji menjemputnya pukul 3
sore tetapi sekarang baru pukul 14.45. kurang 15 menit lagi sebelum waktu Ernie
pulang. Disitu aku menunggu sembari duduk-duduk di atas kap mobilku, banyak
orang lalu lalang melihat aku, mungkin karena aku memakai almamater kampusku
jadi aku nampak berbeda dari yang lain atau entahlah mungkin karena ada sesuatu
yang agak aneh denganku.
“Hayo mikirin jorok ya”, sergap Ernie
mengagetkanku,
“Ah kamu, ya enggaklah”,Ucapku sembari
melihat kearahnya.
“Hihihi, ya udah ayo berangkat”,ucapnya
sembari menarik tanganku.
“Oke, deh” jawabku singkat. Tapi aku sedikit
bingung kenapa saat Ernie menggandeng tanganku tatapan orang-orang disekitar
kami menjadi agak aneh. Tetapi aku tidak mau berlama-lama bingung akan hal itu
jadi ya biar deh.
Kuarahkan laju mobilku menuju Plaza
Ambarukmo kira-kira 15 menit dari kampus
UNY waktu yang perlu kami tempuh ,di perjalanan Ernie bercerita tentang banyak
hal mengenai kehidupannya. Sungguh menarik dia tampak ceria sekali seperti
tidak ada pikiran dibenaknya, tapi aku sedikit merasa bahwa dia menyimpan
sebuah kesedihan mendalam dalam dirinya. Karena terkadang aku melihar raut
wajahnya yang bersedih meski dia
berusaha menyembunyikannya.
Akhirnya kami tiba di pelataran parkir Plaza
Ambarukmo, aku parkirkan mobilku dibagian paling barat, agar mudah ketika aku
mencarinya. Kami kemudian pergi kearah penjualan pakaian di lantai 2 menggunakan elevator. Disini nampak banyak
orang berlalu-lalang dengan kesibukannya
masing-masing. Ketika tiba disitu Ernie langsung berlari menuju salah satu
distro pakaian disana ia nampak sangat asik memilih-milih pakaian disitu. Ia
bertanya padaku yang mana kira-kira pakaian yang lebih cocok untuk dijadikan
kado untuk ibunya.
“Menurutku lebih bagus gaun warna hijau itu
deh, apalagi di hiasi dengan motif-motif batik”, jawabku.
Akhirnya dia memilih baju yang aku pilihkan
tadi kemudian membawanya ke kasir. Aku hanya diem sembari menunggu dia membayar
dikasir, aku memandangi sekitar untuk membuang kebosanan. Semakin aku lama
bersamanya semakin aku penasaran dengan sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan
dariku.
“Gaunnya sudah di bungkus di kertas kado.Sekarang
kita ke bagian pastry untuk mencari kue ultah buat mamah”,ajaknya sembari
menarik tanganku.
Kami kemudian pergi menuju bagian pastry di
lantai satu. Setelah sampai disitu Ernie langsung melihat bagian kue-kue ulang
tahun. Semua kue yang dipajang disana nampak sangat lezat, apalagi yang di
taburi coklat, karna memang aku sangat suka kue coklat. Aku melihat disitu
Ernie memilih kue brownies ukuran sedang yang sudah dibalut krim coklat serta
taburan choco cips di atasnya,hehehe seperti iklan saja khan.
Setelah membeli semua perlengkapan untuk merayakan
ultah ibu Ernie, kamipun Pulang kerumah
Ernie. Aku parkirkan saja mobilku masuk kedalam halaman rumah Ernie setelah dia
membukakan pintu pagar rumahnya. Rumah Ernie terasa lengang, sepi sekali.
Sepertinya tidak ada orang lain disini, selain kami berdua.
“Rumah kamu kok sepi banget ya Er ?, yang
lain pada kemana?”, tanyaku sembari membantu Ernie membawakan barang-barang
belanjaannya tadi.
“Emb…,,aku disini Cuma tinggal sama mamah,
kalau saudara aku ngak punya sedangkan ayah aku sudah meninggal dan kami tidak
memiliki pembantu. Karena menurut ibuku selagi kami masih bisa melakukannya
sendiri kenapa tidak!”, jawabnya sembari membukakan pintu agar kami bisa masuk.
Nampak raut wajahnya berubah sedih ketika ia berbicara mengenai ayahnya yang
meninggal.
“Maaf aku tidak bermaksud membuat kamu
sedih”, ucapku gelagapan bingung karena melihat raut wajahnya itu.
“Ngak papa kok, aku sudah mengikhlaskan
ayahku pergi, karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, pasti ada sebuah
rencana yang lebih baik yang telah Tuhan persiapkan bagi keluarga kami”, kata
Ernie berusaha menepis kesedihannya.
Aku semakin merasa takjub dengannya ketegaran
yang dia miliki serta kelembutan hatinya membuat aku semakin merasa bahwa dia
adalah wanita yang aku cari selama ini. Dialah tulang rusukku yang selama ini
Tuhan pisahkan dari aku. Akhirnya aku sudah membulatkan tekadku untuk
menembaknya setelah acara ulang tahun ibunya nanti.
“Yups, sekarang saatnya masak makanan
favoritnya mamah neh. Sayang bantuin bawain sayuran sama bahan-bahan makanannya
ke dapur dong !”, ucap Ernie dari arah dapur rumahnya.
“ Tadi manggil aku apa? . panggil lagi dong
“,ucapku berharap sembari meletakkan bahan-bahan masakan tadi ke atas meja.
“No..no..no , ngak ada siaran Ulang wekkk…”,
jawab Ernie sembari tertawa.
“Huuuuu… PHP thu nama nya ucapku”, sembari
berpura-pura memasang muka cemberut.
“Hahahahah, anak mama marah. Sudah-sudah
bantuin aku masak ajah gih. Kamu potongin daging sama sayurnya ya biar aku yang
bagian masak. Kalau bagian motong-motong doing kamu bisa khan?”, ejeknya.
“Bisa kok”, jawabku singkat sembari mencuci
sayur-sayur serta dading yang kami beli tadi. Kemudian memotongnya seperti yang
diajarkan Ernie kepadaku tadi.
Setelah hampir dua jam lamanya kami berkutat
dengan panci gosong, karena kami berdua ternyata tidak mahir memasak. Terbukti
sudah berkali-kali kami mengulang karena berakhir dengan hasil makanan gosong
atau keasinan. Tetapi kami yakin dengan
masakan kami yang terakhir ini rasanya bisa dibilang enak kok meski agak
sedikit memaksa sih, heheheh.
“Ok, sekarang tinggal kita tata di meja
makan. Terus kita dekor ruangannya biar makin cantik”, ucapnya sembari
tersenyum kearahku, meskipun wajahnya penuh dengan belepotan dengan tepung
tetapi tidak mengurangi kecantikan yang ada pada dirinya.
Akhirnya setelah kami menata semua makananan
termasuk kue yang tadi kami beli, kami kemudian mendekor ruang tamu dengan
balon-balon serta hiasan dinding lainnya tak lupa kami menyiapkan topi pesta
dan juga terompet disitu. Tetapi aku lumayan heran karena Ernie hanya
menyediakan tiga terompet dan topi pesta.
“ Er, kok topi sama terompetnya cuma ada
tiga, apa yang lain tidak dikasih ?” tanyaku heran.
“Emm, yang ikut pestanya cuma tiga orang kok.
Aku , kamu ,sama mamah aja. Kami tidak pernah mengundang orang lain karna suatu
alasan. Ini pertama kalinya aku ngajak orang lain ngerayain ultah mamah
semenjak papah meninggal”, jawabnya.
“Yup,.. dekornya sudah selesai. Tinggal
nunggu mamah kamu pulang ajah”, ucapku sembari membereskan sisa-sisa kotoran
saat aku mendekor tadi.
“Oke sekarang kamu mandi duluan gih bau asem
gitu, heheheh.Setelah kamu mandi nanti gantian aku. Kamu bawa baju ganti?, khan
kemarin sudah aku suruh bawa”, kata Ernie sembari melemparkan handuk ke arahku.
“Iya aku bawa kok, ada di tas, ya sudah aku
mandi duluan ya”, jawabku sembari meninggalkan Ernie yang aku lihat sedang
mengagumi hasil dekoranku.
Setelah aku dan Ernie selesai mandi kami
menunggu ibu Ernie pulang . Kata Ernie ibunya biasa pulang pukul delapan malam,
kira-kira sepuluh menit lagi kamiharus menunggu. Untuk membuang kebosanan aku
dan Ernie bercerita pengalaman-pengalaman yang mengesankan yang pernah kami
alami. Disitu baru aku ketahui betapa dekatnya dia dengan ayahnya. Semua
terlihat ketika dia nampak begitu hidup dan bersemangat ketika dia bercerita
tentang ayahnya. Ketika itu aku dapat melihat senyuman merekah dari wajahnya.
Tidak terbayangkan bagaimana perasaannya ketika mengetahui ayahnya meninggal
empat tahun yang lalu. Seandainya aku sudah mengenalnya saat itu pasti aku akan
berusaha mengembalikan senyumannya itu semenjak dulu.
“Brummm..brumm”, suara mobil terdengar
memasuki halaman aku dan ernie kemudian berpandang-pandangan. Sepertinya itu
ibu Ernie pikirku.
“Ayo cepat sembunyi, matikan dulu lampunya.
Kita akan mengejutkan mamah ketika dia masuk nanti”, ucap Ernie sembari menarik
tanganku dan bersembunyi di balik sofa.
Kemudian ibu Ernie masuk tanpa curiga dan
memanggil nama Ernie berulang-ulang sembari mencari saklar lampu karena tadi
lampunya kami matikan sebelum kami bersembunyi tadi.
“Surprise”,kejut kami sembari meniupkan
terompet dan kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan juga lagu tiup
lilin. Kemudian setelah berdoa dan mengajukan harapan kami kemudian makan malam
bersama. Aku sungguh takjub dengan Bu Siska, ibunya Ernie di usia nya yang bisa
dibilang tidak muda lagi hampir menginjak kepala lima tetapi dia masih saja
berkerja keras tak nampak penat di wajahnya meskipun dia harus membanting
tulang sendirian, mungkin karna demi anak semata wayangnya. Sungguh-sungguh
nampak sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya Mungkin inilah yang namanya kasih ibu
sepanjang jalan.
“kamu yang namanya Ernest ya, Ernie sering
sekali lho bercerita tentang kamu. Kalau cerita tentang kamu dia semangat
sekali lho”, ucap ibu Ernie sembari tersenyum kearahku.
“Ah mamah, aku khan jadi malu. Jangan
dibilangin dong”, kata Ernie tersipu malu.
“Hahahahaha”, aku serta ibu Ernie hanya bisa
tertawa ketika melihat wajah Ernia yang merah padam
Suasana kekeluargaan inilah yang selama ini
aku cari dalam hidupku maklumlah aku adalah anak kos jadi bisa di bilang sangat
jarang bertemu orang tua karena mereka berdua tinggal di Sumatra, tetapi
meskipun aku berada di sana tetap saja suasana kekeluargaan seperti ini tetap
jarang aku rasakan karena mereka sibuk akan urusannya masing-masing.Cukup lama
aku berbincang-bincang dengan bu Siska, yah bisa dibilang seperi di interogasi
secara besar-besaran, hehehe. Setelah acara makan malam dan ultah selsai , aku
kemudian membantu Ernie untuk membereskan piring kotor dan kemudian mencucinya.
Setelah selesai, aku kemudian mencoba untuk
berusaha mengungkapkan perasaanku ini. Tapi gimana ya, badan aku ngak bisa di
ajak kompromi.Keringat dingin mengalir deras dari badanku, mulutku pun kaku
seperti dilem saja. Susah sekali rasanya untuk dapat mengucapkan tiga patah
kata saja padanya.
“Kamu kenapa Nest kok keringatan gitu, kamu
sakit?”, Tanya Ernie sembari meletakkan tangannya pada keningku, mungkin
maksudnya untuk mengukur suhu tubuhku.
“Eh,,,… ngak papa kok,kayaknya sudah terlalu
larut malam . kayaknya sudah saatnya aku pamit pulang deh”,ucapku sembari
merapikan barang bawaanku dan berjalan menuju ruang tamu Ernie.
“Eh sudah mau pulang, ya sudah hati-hati
dijalan ya”, ucap Ernie sembari mengantarku menuju halaman depan rumahnya.
Tetapi ketika kami sampai di halaman, entah
kenapa tiba-tiba kata-kata yang sulit aku ucapkan tadi keluar dengan
sendirinya. “Aku cinta kamu, maukah kamu jadi pacarku”,rasanya sesak sekali
apalagi ketika aku harus menunggu jawaban darinya jantung ini seperti berhenti
saja.
“Aku juga cinta kamu, tapi mungkin sebaiknya
kita mengenal lebih dalam dulu. Karena kamu belum mengenal aku lebih dalam. Aku
takut kamu akan menyesal karena telah memilih aku.”,jawabnya
Aku bingung harus senang atau sedih mendengar
jawaban Ernie. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menembaknya. Akhirnya aku
memutuskan pulang saja setelah berpamitan dengan Ernie. Sejuta pertanyaan
berkecamuk di kepalaku, apa ya maksud Ernie tadi pikirku. Tidak terasa aku
sudah sampai di tempat kosku, karena mungkin terlalu kelelahan aku langsung
tertidur setelah melepas sepatuku dan berbaring tidur.
Kesekoan harinya aku menjemput Ernie di
kampusnya karena memang hari ini aku sedang tidak ada kelas. Seperti kemarin
aku memarkirkan mobilku dan menunggu disitu. Tetapi tiba-tiba seorang wanita
menepuk pundakku dan bertanya padaku. “Apa kamu teman Ernie?”.
“Ia benar, ada apa ya mbak?” tanyaku balik
kepadanya. Tetapi kata-kata dia yang selanjutnya membuat aku seperti tersambar
petir di siang bolong. Dia berkata “ Ernie adalah seorang penyandang HIV” dan
dia juga memberi saran kepadaku untuk segera menjauhi Ernie agar tidak tertular.
Kemudian pergi begitu saja ketika ia melihat Ernie berjalan mendekatiku.
Aku masih belum bisa berpikir jernih saat
itu. Aku kemudian mengajak Ernie masuk kemobil dan pergi meninggalkan tempat
itu. Melihat raut wajahku nampak kecemasan di wajah Ernie. Tetapi kemudian
dengan terbata-bata aku bertanya kepadanya “ Apa benar apa yang dikatakan
wanita tadi bahwa kamu adalah pengidap HIV ?”. Dia hanya diam membisu sembari
menatap kebawah, kemudian dia menjawab “ Iya aku mengidap HIV sudah lebih dari
3 tahun yang lalu. Wanita yang kamu temui tadi adalah teman karibku semenjak
smp tetapi dia berubah semenjak tau bahwa aku mengidap HIV, begitu pula semua
teman=temanku yang lain dulu mereka sangat baik kepadaku tetapi sekarang mereka
berbeda. Seharusnya aku memberi tahumu saat pertama kita bertemu tapi entah
kenapa sulit saat itu bagiku untuk mengatakannya, maka dari itu sepertinya kita
tidak usah bertemu lagi”
“Bukankah aku pernah berjanji kepadamu akan
selalu menjagamu apapun yang terjadi.Memang aku sedikit kaget ketika tahu bahwa
kamu mengidap HIV, tetapi bukankah hal tersebut bukan suatu pehalang dalam
sebuah pertemanan. Lagi pula bukankah dalam berhubungan kita tidak hanya
menerima kelebihan tetapi juga kekurangannya. Aku cinta kamu dan akan selalu
begitu meski tangan Tuhan memisahkannya”, ucapku berusaha memberinya semangat.
“tetapi aku tidak mau kamu tertular
penyakitku ini. Aku tidak mau kamu jadi sepertiku” , ucapnya sembari
terisak-isak.
“Bukankah hanya sekedar bersentuhan tidak
akan berdampak penularan. Jadi untuk apa takut”, kataku berusaha
menenangkannya.
Setelah itu dia menceritakan awal mula
mengapa dia terkena HIV. Saat itu ayahnya baru saja meninggal dan hal tersebut
membuatnya despresi berat. Kemudian salah satu temannya mengajaknya
mengkonsumsi narkoba dan akhirnya ia terjerumus didalamnya, tetapi setelah itu
dia sadar ada yang salah pada dirinya dan kemudian memeriksakannya. Ternyata
hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa ia positif mengidap HIV dan itu semua disebabkan karena
ketika ia menggunakan narkoba . Dia menggunakan jarum suntik secara bergantian
sehingga ia tertular penyakit itu dari temannya yang yang juga pengguna barang
haram tersebut. Sekarang ia sudah tidak lagi menggunakan narkoba lagi semenjak
dia tahu bahwa dia terkena AIDS, dan hal tersebutlah yang mengubah semua
pandangan hidupnya.
Aku hanya bisa diam sembari mendengar
ceritanya, betapa dia sangat sedih karena hal itu. Apalagi hidup sebagai seorang penyandang HIV yang di
pandang sebelah mata oleh semua orang tidak jarang mereka menghina bahkan
menggangunya. Setidaknya tidak ada satupun orang yang memberi dia semangat
kecuali ibunya. Mungkin Tuhan mempertemukan kami agar aku bisa menjaganya dan
memberinya semangat.
“Aku ingin membawa kamu kesuatu tempat”, ucapnya
sembari mengusap airmatanya menggunakan sapu tangan yang tadi aku berikan.
“Nanti aku tunjukan saja arahnya soalnya aku lupa nama jalannya”,sambungnya.
Sesuai permintaan Ernie aku mengarahkan arah
laju mobilku ketempat yang dia tunjukkan. Ternyata dia mengajakku menuju sebuah
panti sosial dimana disitu berkumpul anak-anak penyandang berbagai penyakit
yang parah. Setelah memarkirkan mobilku kami kemudian masuk, bangunan ini
hampir mirip rumah sakit tetapi lebih kecil untuk dikatakan sebagai rumah sakit.
Ernie mengajakku berjalan menyusuri lorong , sambil kami berjalan orang-orang
yang sepertinya bekerja disini menyapa Ernie ,seperti sudah lama mereka saling
mengenal. Ernie kemudian menarik tanganku kearah sebuah taman disitu nampak
banyak anak-anak bermain dengan riangnya tetapi ada yang aneh dengan mereka.
Bisa dibilang mereka tidak normal seperti anak-anak yang lain. Beberapa dari
mereka bahkan tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Tetapi itu semua tidak
menghilangkan senyum tawa mereka disini.
“Kak Ernie”, ucap mereka bersamaan ketika
melihat kami datang. Kemudian mereka berhamburan datang kea rah kami. “Ini
pacar kakak ya”, ucap salah satu dari mereka yang membuat mukaku merah padam.
“Mau nya sih begitu,hehehehe. Kalian mau
permen tidak kakak bawa banyak lho”, kata Ernie sembari tersenyum padaku
kemudian membagi-bagikan permen yang dia keluarkan dari tasnya.
“Mereka adalah anak-anak yang menyandang
penyakit-penyakit kronis, banyak dari mereka meninggal ditempat ini.
Setidaknnya kami yang berada di tempat ini dapat mebuat mereka tersenyum walau
hanya sesaat. Melihat mereka dapat tersenyum membuat aku mengerti untuk apa aku
hidup”, kata Ernie sembari mengajakku duduk di sebuah ayunan kecil disitu.
“lihat anak itu meski dia terlihat normal tetapi dia menyadang HIV semenjak dia lahir. Dia sama seperti aku
bahkan ia tidak bisa bersekolah karena semua sekolah menolak dia”.
“Emb sudah jam dua belas, aku mau bantu
teman-teman dulu ya, menyiapkan makanan untuk mereka. Kamu tunggu disini saja
dulu sambil menemani mereka bermain”, ucap Ernie kemudian pergi meninggalkan
aku. Dilihat bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak yang butuh kasih sayang.
Tawa serta kebahagiaan mereka itulah yang mestinya kita jaga.
Setelah Ernie selesai dengan tugas-tugasnya
disini, kami pun berpamitan pulang
dengan anak-anak itu. Karena lapar aku mengajak Ernie pergi ketaman kota untuk
makan bakso favoritku disana. Setelah tiba disana seperti biasa aku memesan
bakso favoritku hanya saja sekarang aku memesan dua porsi. Kemudian aku
mengajak Ernie duduk dipingir jalan sembari menatap lalu lalang kendaraan
disana.
Namun entah kenapa tiba-tiba Ernie berlari
kearah jalan. “Ckitttttt… Brak”, terdengar suara rem serta tabrakkan yang
takkan pernah aku lupakan. Sontak saja aku berlari menuju arah suara tersebut
yang tak dapat kuterima ketika melihat Ernie terkapar bersimbah darah langsung
saja aku berteriak minta tolong dan berusaha menyadarkannya. Tetapi yang
membuatku semakin kaget adalah ketika aku melihat Ernie mendekap seorang balita
di pelukannya. Ternyata Ernie berusaha menyelamatkan balita tersebut yang lalai
dari pengawasan orang tuanya,meski balita tersebut tidak papa tetapi Ernie
terluka parah.Bahkan darah mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Kemudian Ernie
memberikan anak tersebut kepadaku, nampak anak itu tersenyum kepadaku. Mungkin
dia tidak tau apa yang baru saja ia
alami.
“Aku akan membawamu kerumah sakit, aku mohon
bertahanlah”, ucapku sembari berusaha mengangkat Ernie. Namun kemudian Ernie
memegang tanganku seraya berkata “Sudah terlambat, ini sudah waktunya. Aku
sangat bahagia karena setidaknya aku telah menyalamatkan sebuah senyuman hari
ini. Aku tidak pernah menyesal karena telah dikaruniai penyakit ini, karena
penyakit inilah setidaknya aku mengerti bahwa jalan yang aku lalui saat itu
adalah salah, karena penyakit inilah aku dapat menjaga senyuman anak-anak itu
dank arena penyakit inilah aku diberi kesempatan untuk mencintaimu”, dan saat
itu pula ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku hanya dapat menangis sembari
memanggil-manggil namanya saat itu. Ini semua bagai mimpi bagiku. Namun apalah
dayaku tidak mungkin aku dapat mengembalikan nyawanya,
…………………………………………………………………………………….
Isak tangis pecah ketika upacara pemakaman
Ernie dilangsungkan. Aku hanya mampu bersikap tegar sembari berusaha
menenangkan Ibu Ernie yang dari tadi tak dapat membendung air matanya. Yang
datang pada upacara pemakaman ini didominasi dari anak-anak panti sosial serta teman-teman Ernie yang bekerja disitu ,
aku lihat semua anak-anak itu menangisi kepergian Ernie.
Sekarang yang dapat kuyakini adalah bahwa
kamu tidak bisa memilih bagaimana keadaan ketika kamu lahir , tetapi kamu bisa
memilih bagaimana cara kamu meninggal dan bagaimana cara orang mengingat
kebaikanmu dan Ernie pergi bukan tidak meninggalkan apa-apa. Dia telah
meninggalkan keyakinannya padaku, bahwa aku harus menjaga senyuman anak-anak ini
dan kini giliran aku untuk menjaganya.
Bantul,27
September 2013
Penulis
Yohanes
Hadinata S