Kamis, 17 Oktober 2013

Senyuman itu.



Senyuman Itu
Oleh : Yohanes Hadinata S

Setelah aku pulang dari kuliahku yang cukup membuat pusing kepalaku karna harus bertemu dosen kiler yang mengajar di jurusan yang aku ambil. Meski dari perawakannya terlihat feminim tapi dosenku yang satu itu bisa di bilang lady killer karena memang dia menakutkan bagiku, apalagi ketika dia tau aku terlambat masuk kelasnya, bisa-bisa nilai aku jadi F ntar.
Baru aku ingat aku ada janji dengan Ernie, wanita yang tidak sengaja aku temui saat di rumah sakit. Setelah kemarin kami saling mengenal dan juga aku sempatkan untuk mengantarnya pulang karena dia tidak membawa kendaraan tak lupa aku meminta nomor ponselnya agar memudahkan aku untuk menghubunginya. Ini semua aku lakukan mungkin karena aku menyukainya saat kami pertama kali bertemu.
Akhirnya kunyalakan mesin mobilku dan melaju pergi dari area parkir. Waktu yang aku tunggu-tunggu datang pikirku,ku arahkan perjalanan kearah kampus UNY tempat Ernie berkuliah. Ernie mengambil jurusan Administrasi perkantoran disana,katanya dia ingin menjadi seorang sekertaris yang handal.Kemampuannya untuk bersosialisasi membuat aku yakin dia pasti akan bisa menjadi seorang sekertaris yang handal.
Setelah sampai di pelataran area kampus UNY aku arahkan mobilku masuk kedaerah area kampus jurusan Perkantoran, karena memang disanalah kelas Ernie sedang berlangsung, kuparkirkan mobilku disekitar situ dibawah rimbunnya pohon, aku ingat kemarin aku janji menjemputnya pukul 3 sore tetapi sekarang baru pukul 14.45. kurang 15 menit lagi sebelum waktu Ernie pulang. Disitu aku menunggu sembari duduk-duduk di atas kap mobilku, banyak orang lalu lalang melihat aku, mungkin karena aku memakai almamater kampusku jadi aku nampak berbeda dari yang lain atau entahlah mungkin karena ada sesuatu yang agak aneh denganku.
“Hayo mikirin jorok ya”, sergap Ernie mengagetkanku,
“Ah kamu, ya enggaklah”,Ucapku sembari melihat kearahnya.
“Hihihi, ya udah ayo berangkat”,ucapnya sembari menarik tanganku.
“Oke, deh” jawabku singkat. Tapi aku sedikit bingung kenapa saat Ernie menggandeng tanganku tatapan orang-orang disekitar kami menjadi agak aneh. Tetapi aku tidak mau berlama-lama bingung akan hal itu jadi ya biar deh.
Kuarahkan laju mobilku menuju Plaza Ambarukmo  kira-kira 15 menit dari kampus UNY waktu yang perlu kami tempuh ,di perjalanan Ernie bercerita tentang banyak hal mengenai kehidupannya. Sungguh menarik dia tampak ceria sekali seperti tidak ada pikiran dibenaknya, tapi aku sedikit merasa bahwa dia menyimpan sebuah kesedihan mendalam dalam dirinya. Karena terkadang aku melihar raut wajahnya yang bersedih meski dia  berusaha menyembunyikannya.
Akhirnya kami tiba di pelataran parkir Plaza Ambarukmo, aku parkirkan mobilku dibagian paling barat, agar mudah ketika aku mencarinya. Kami kemudian pergi kearah penjualan pakaian di lantai 2  menggunakan elevator. Disini nampak banyak orang berlalu-lalang  dengan kesibukannya masing-masing. Ketika tiba disitu Ernie langsung berlari menuju salah satu distro pakaian disana ia nampak sangat asik memilih-milih pakaian disitu. Ia bertanya padaku yang mana kira-kira pakaian yang lebih cocok untuk dijadikan kado untuk ibunya.
“Menurutku lebih bagus gaun warna hijau itu deh, apalagi di hiasi dengan motif-motif batik”, jawabku.
Akhirnya dia memilih baju yang aku pilihkan tadi kemudian membawanya ke kasir. Aku hanya diem sembari menunggu dia membayar dikasir, aku memandangi sekitar untuk membuang kebosanan. Semakin aku lama bersamanya semakin aku penasaran dengan sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan dariku.
“Gaunnya sudah di bungkus di kertas kado.Sekarang kita ke bagian pastry untuk mencari kue ultah buat mamah”,ajaknya sembari menarik tanganku.
Kami kemudian pergi menuju bagian pastry di lantai satu. Setelah sampai disitu Ernie langsung melihat bagian kue-kue ulang tahun. Semua kue yang dipajang disana nampak sangat lezat, apalagi yang di taburi coklat, karna memang aku sangat suka kue coklat. Aku melihat disitu Ernie memilih kue brownies ukuran sedang yang sudah dibalut krim coklat serta taburan choco cips di atasnya,hehehe seperti iklan saja khan.
Setelah membeli semua perlengkapan untuk merayakan ultah ibu Ernie, kamipun Pulang  kerumah Ernie. Aku parkirkan saja mobilku masuk kedalam halaman rumah Ernie setelah dia membukakan pintu pagar rumahnya. Rumah Ernie terasa lengang, sepi sekali. Sepertinya tidak ada orang lain disini, selain kami berdua.
“Rumah kamu kok sepi banget ya Er ?, yang lain pada kemana?”, tanyaku sembari membantu Ernie membawakan barang-barang belanjaannya tadi.
“Emb…,,aku disini Cuma tinggal sama mamah, kalau saudara aku ngak punya sedangkan ayah aku sudah meninggal dan kami tidak memiliki pembantu. Karena menurut ibuku selagi kami masih bisa melakukannya sendiri kenapa tidak!”, jawabnya sembari membukakan pintu agar kami bisa masuk. Nampak raut wajahnya berubah sedih ketika ia berbicara mengenai ayahnya yang meninggal.
“Maaf aku tidak bermaksud membuat kamu sedih”, ucapku gelagapan bingung karena melihat raut wajahnya itu.
“Ngak papa kok, aku sudah mengikhlaskan ayahku pergi, karena semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan, pasti ada sebuah rencana yang lebih baik yang telah Tuhan persiapkan bagi keluarga kami”, kata Ernie berusaha menepis kesedihannya.
Aku semakin merasa takjub dengannya ketegaran yang dia miliki serta kelembutan hatinya membuat aku semakin merasa bahwa dia adalah wanita yang aku cari selama ini. Dialah tulang rusukku yang selama ini Tuhan pisahkan dari aku. Akhirnya aku sudah membulatkan tekadku untuk menembaknya setelah acara ulang tahun ibunya nanti.
“Yups, sekarang saatnya masak makanan favoritnya mamah neh. Sayang bantuin bawain sayuran sama bahan-bahan makanannya ke dapur dong !”, ucap Ernie dari arah dapur rumahnya.
“ Tadi manggil aku apa? . panggil lagi dong “,ucapku berharap sembari meletakkan bahan-bahan masakan tadi ke atas meja.
“No..no..no , ngak ada siaran Ulang wekkk…”, jawab Ernie sembari tertawa.
“Huuuuu… PHP thu nama nya ucapku”, sembari berpura-pura memasang muka cemberut.
“Hahahahah, anak mama marah. Sudah-sudah bantuin aku masak ajah gih. Kamu potongin daging sama sayurnya ya biar aku yang bagian masak. Kalau bagian motong-motong doing kamu bisa khan?”, ejeknya.
“Bisa kok”, jawabku singkat sembari mencuci sayur-sayur serta dading yang kami beli tadi. Kemudian memotongnya seperti yang diajarkan Ernie kepadaku tadi.
Setelah hampir dua jam lamanya kami berkutat dengan panci gosong, karena kami berdua ternyata tidak mahir memasak. Terbukti sudah berkali-kali kami mengulang karena berakhir dengan hasil makanan gosong atau keasinan. Tetapi  kami yakin dengan masakan kami yang terakhir ini rasanya bisa dibilang enak kok meski agak sedikit memaksa sih, heheheh.
“Ok, sekarang tinggal kita tata di meja makan. Terus kita dekor ruangannya biar makin cantik”, ucapnya sembari tersenyum kearahku, meskipun wajahnya penuh dengan belepotan dengan tepung tetapi tidak mengurangi kecantikan yang ada pada dirinya.
Akhirnya setelah kami menata semua makananan termasuk kue yang tadi kami beli, kami kemudian mendekor ruang tamu dengan balon-balon serta hiasan dinding lainnya tak lupa kami menyiapkan topi pesta dan juga terompet disitu. Tetapi aku lumayan heran karena Ernie hanya menyediakan tiga terompet dan topi pesta.
“ Er, kok topi sama terompetnya cuma ada tiga, apa yang lain tidak dikasih ?” tanyaku heran.
“Emm, yang ikut pestanya cuma tiga orang kok. Aku , kamu ,sama mamah aja. Kami tidak pernah mengundang orang lain karna suatu alasan. Ini pertama kalinya aku ngajak orang lain ngerayain ultah mamah semenjak papah meninggal”, jawabnya.
“Yup,.. dekornya sudah selesai. Tinggal nunggu mamah kamu pulang ajah”, ucapku sembari membereskan sisa-sisa kotoran saat aku mendekor tadi.
“Oke sekarang kamu mandi duluan gih bau asem gitu, heheheh.Setelah kamu mandi nanti gantian aku. Kamu bawa baju ganti?, khan kemarin sudah aku suruh bawa”, kata Ernie sembari melemparkan handuk ke arahku.
“Iya aku bawa kok, ada di tas, ya sudah aku mandi duluan ya”, jawabku sembari meninggalkan Ernie yang aku lihat sedang mengagumi hasil dekoranku.
Setelah aku dan Ernie selesai mandi kami menunggu ibu Ernie pulang . Kata Ernie ibunya biasa pulang pukul delapan malam, kira-kira sepuluh menit lagi kamiharus menunggu. Untuk membuang kebosanan aku dan Ernie bercerita pengalaman-pengalaman yang mengesankan yang pernah kami alami. Disitu baru aku ketahui betapa dekatnya dia dengan ayahnya. Semua terlihat ketika dia nampak begitu hidup dan bersemangat ketika dia bercerita tentang ayahnya. Ketika itu aku dapat melihat senyuman merekah dari wajahnya. Tidak terbayangkan bagaimana perasaannya ketika mengetahui ayahnya meninggal empat tahun yang lalu. Seandainya aku sudah mengenalnya saat itu pasti aku akan berusaha mengembalikan senyumannya itu semenjak dulu.
“Brummm..brumm”, suara mobil terdengar memasuki halaman aku dan ernie kemudian berpandang-pandangan. Sepertinya itu ibu Ernie pikirku.
“Ayo cepat sembunyi, matikan dulu lampunya. Kita akan mengejutkan mamah ketika dia masuk nanti”, ucap Ernie sembari menarik tanganku dan bersembunyi di balik sofa.
Kemudian ibu Ernie masuk tanpa curiga dan memanggil nama Ernie berulang-ulang sembari mencari saklar lampu karena tadi lampunya kami matikan sebelum kami bersembunyi tadi.
“Surprise”,kejut kami sembari meniupkan terompet dan kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan juga lagu tiup lilin. Kemudian setelah berdoa dan mengajukan harapan kami kemudian makan malam bersama. Aku sungguh takjub dengan Bu Siska, ibunya Ernie di usia nya yang bisa dibilang tidak muda lagi hampir menginjak kepala lima tetapi dia masih saja berkerja keras tak nampak penat di wajahnya meskipun dia harus membanting tulang sendirian, mungkin karna demi anak semata wayangnya. Sungguh-sungguh nampak sosok ibu yang sangat menyayangi anaknya  Mungkin inilah yang namanya kasih ibu sepanjang jalan.
“kamu yang namanya Ernest ya, Ernie sering sekali lho bercerita tentang kamu. Kalau cerita tentang kamu dia semangat sekali lho”, ucap ibu Ernie sembari tersenyum kearahku.
“Ah mamah, aku khan jadi malu. Jangan dibilangin dong”, kata Ernie tersipu malu.
“Hahahahaha”, aku serta ibu Ernie hanya bisa tertawa ketika melihat wajah Ernia yang merah padam
Suasana kekeluargaan inilah yang selama ini aku cari dalam hidupku maklumlah aku adalah anak kos jadi bisa di bilang sangat jarang bertemu orang tua karena mereka berdua tinggal di Sumatra, tetapi meskipun aku berada di sana tetap saja suasana kekeluargaan seperti ini tetap jarang aku rasakan karena mereka sibuk akan urusannya masing-masing.Cukup lama aku berbincang-bincang dengan bu Siska, yah bisa dibilang seperi di interogasi secara besar-besaran, hehehe. Setelah acara makan malam dan ultah selsai , aku kemudian membantu Ernie untuk membereskan piring kotor dan kemudian mencucinya.
Setelah selesai, aku kemudian mencoba untuk berusaha mengungkapkan perasaanku ini. Tapi gimana ya, badan aku ngak bisa di ajak kompromi.Keringat dingin mengalir deras dari badanku, mulutku pun kaku seperti dilem saja. Susah sekali rasanya untuk dapat mengucapkan tiga patah kata saja padanya.
“Kamu kenapa Nest kok keringatan gitu, kamu sakit?”, Tanya Ernie sembari meletakkan tangannya pada keningku, mungkin maksudnya untuk mengukur suhu tubuhku.
“Eh,,,… ngak papa kok,kayaknya sudah terlalu larut malam . kayaknya sudah saatnya aku pamit pulang deh”,ucapku sembari merapikan barang bawaanku dan berjalan menuju ruang tamu Ernie.
“Eh sudah mau pulang, ya sudah hati-hati dijalan ya”, ucap Ernie sembari mengantarku menuju halaman depan rumahnya.
Tetapi ketika kami sampai di halaman, entah kenapa tiba-tiba kata-kata yang sulit aku ucapkan tadi keluar dengan sendirinya. “Aku cinta kamu, maukah kamu jadi pacarku”,rasanya sesak sekali apalagi ketika aku harus menunggu jawaban darinya jantung ini seperti berhenti saja.
“Aku juga cinta kamu, tapi mungkin sebaiknya kita mengenal lebih dalam dulu. Karena kamu belum mengenal aku lebih dalam. Aku takut kamu akan menyesal karena telah memilih aku.”,jawabnya
Aku bingung harus senang atau sedih mendengar jawaban Ernie. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk menembaknya. Akhirnya aku memutuskan pulang saja setelah berpamitan dengan Ernie. Sejuta pertanyaan berkecamuk di kepalaku, apa ya maksud Ernie tadi pikirku. Tidak terasa aku sudah sampai di tempat kosku, karena mungkin terlalu kelelahan aku langsung tertidur setelah melepas sepatuku dan berbaring tidur.
Kesekoan harinya aku menjemput Ernie di kampusnya karena memang hari ini aku sedang tidak ada kelas. Seperti kemarin aku memarkirkan mobilku dan menunggu disitu. Tetapi tiba-tiba seorang wanita menepuk pundakku dan bertanya padaku. “Apa kamu teman Ernie?”.
“Ia benar, ada apa ya mbak?” tanyaku balik kepadanya. Tetapi kata-kata dia yang selanjutnya membuat aku seperti tersambar petir di siang bolong. Dia berkata “ Ernie adalah seorang penyandang HIV” dan dia juga memberi saran kepadaku untuk segera menjauhi Ernie agar tidak tertular. Kemudian pergi begitu saja ketika ia melihat Ernie berjalan mendekatiku.
Aku masih belum bisa berpikir jernih saat itu. Aku kemudian mengajak Ernie masuk kemobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Melihat raut wajahku nampak kecemasan di wajah Ernie. Tetapi kemudian dengan terbata-bata aku bertanya kepadanya “ Apa benar apa yang dikatakan wanita tadi bahwa kamu adalah pengidap HIV ?”. Dia hanya diam membisu sembari menatap kebawah, kemudian dia menjawab “ Iya aku mengidap HIV sudah lebih dari 3 tahun yang lalu. Wanita yang kamu temui tadi adalah teman karibku semenjak smp tetapi dia berubah semenjak tau bahwa aku mengidap HIV, begitu pula semua teman=temanku yang lain dulu mereka sangat baik kepadaku tetapi sekarang mereka berbeda. Seharusnya aku memberi tahumu saat pertama kita bertemu tapi entah kenapa sulit saat itu bagiku untuk mengatakannya, maka dari itu sepertinya kita tidak usah bertemu lagi”
“Bukankah aku pernah berjanji kepadamu akan selalu menjagamu apapun yang terjadi.Memang aku sedikit kaget ketika tahu bahwa kamu mengidap HIV, tetapi bukankah hal tersebut bukan suatu pehalang dalam sebuah pertemanan. Lagi pula bukankah dalam berhubungan kita tidak hanya menerima kelebihan tetapi juga kekurangannya. Aku cinta kamu dan akan selalu begitu meski tangan Tuhan memisahkannya”, ucapku berusaha memberinya semangat.
“tetapi aku tidak mau kamu tertular penyakitku ini. Aku tidak mau kamu jadi sepertiku” , ucapnya sembari terisak-isak.
“Bukankah hanya sekedar bersentuhan tidak akan berdampak penularan. Jadi untuk apa takut”, kataku berusaha menenangkannya.
Setelah itu dia menceritakan awal mula mengapa dia terkena HIV. Saat itu ayahnya baru saja meninggal dan hal tersebut membuatnya despresi berat. Kemudian salah satu temannya mengajaknya mengkonsumsi narkoba dan akhirnya ia terjerumus didalamnya, tetapi setelah itu dia sadar ada yang salah pada dirinya dan kemudian memeriksakannya. Ternyata hasil pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa ia positif  mengidap HIV dan itu semua disebabkan karena ketika ia menggunakan narkoba . Dia menggunakan jarum suntik secara bergantian sehingga ia tertular penyakit itu dari temannya yang yang juga pengguna barang haram tersebut. Sekarang ia sudah tidak lagi menggunakan narkoba lagi semenjak dia tahu bahwa dia terkena AIDS, dan hal tersebutlah yang mengubah semua pandangan hidupnya.
Aku hanya bisa diam sembari mendengar ceritanya, betapa dia sangat sedih karena hal itu. Apalagi  hidup sebagai seorang penyandang HIV yang di pandang sebelah mata oleh semua orang tidak jarang mereka menghina bahkan menggangunya. Setidaknya tidak ada satupun orang yang memberi dia semangat kecuali ibunya. Mungkin Tuhan mempertemukan kami agar aku bisa menjaganya dan memberinya semangat.
“Aku ingin membawa kamu kesuatu tempat”, ucapnya sembari mengusap airmatanya menggunakan sapu tangan yang tadi aku berikan. “Nanti aku tunjukan saja arahnya soalnya aku lupa nama jalannya”,sambungnya.
Sesuai permintaan Ernie aku mengarahkan arah laju mobilku ketempat yang dia tunjukkan. Ternyata dia mengajakku menuju sebuah panti sosial dimana disitu berkumpul anak-anak penyandang berbagai penyakit yang parah. Setelah memarkirkan mobilku kami kemudian masuk, bangunan ini hampir mirip rumah sakit tetapi lebih kecil untuk dikatakan sebagai rumah sakit. Ernie mengajakku berjalan menyusuri lorong , sambil kami berjalan orang-orang yang sepertinya bekerja disini menyapa Ernie ,seperti sudah lama mereka saling mengenal. Ernie kemudian menarik tanganku kearah sebuah taman disitu nampak banyak anak-anak bermain dengan riangnya tetapi ada yang aneh dengan mereka. Bisa dibilang mereka tidak normal seperti anak-anak yang lain. Beberapa dari mereka bahkan tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Tetapi itu semua tidak menghilangkan senyum tawa mereka disini.
“Kak Ernie”, ucap mereka bersamaan ketika melihat kami datang. Kemudian mereka berhamburan datang kea rah kami. “Ini pacar kakak ya”, ucap salah satu dari mereka yang membuat mukaku merah padam.
“Mau nya sih begitu,hehehehe. Kalian mau permen tidak kakak bawa banyak lho”, kata Ernie sembari tersenyum padaku kemudian membagi-bagikan permen yang dia keluarkan dari tasnya.
“Mereka adalah anak-anak yang menyandang penyakit-penyakit kronis, banyak dari mereka meninggal ditempat ini. Setidaknnya kami yang berada di tempat ini dapat mebuat mereka tersenyum walau hanya sesaat. Melihat mereka dapat tersenyum membuat aku mengerti untuk apa aku hidup”, kata Ernie sembari mengajakku duduk di sebuah ayunan kecil disitu. “lihat anak itu meski dia terlihat normal tetapi dia menyadang  HIV semenjak dia lahir. Dia sama seperti aku bahkan ia tidak bisa bersekolah karena semua sekolah menolak dia”.
“Emb sudah jam dua belas, aku mau bantu teman-teman dulu ya, menyiapkan makanan untuk mereka. Kamu tunggu disini saja dulu sambil menemani mereka bermain”, ucap Ernie kemudian pergi meninggalkan aku. Dilihat bagaimanapun mereka hanyalah anak-anak yang butuh kasih sayang. Tawa serta kebahagiaan mereka itulah yang mestinya kita jaga.
Setelah Ernie selesai dengan tugas-tugasnya disini, kami pun berpamitan  pulang dengan anak-anak itu. Karena lapar aku mengajak Ernie pergi ketaman kota untuk makan bakso favoritku disana. Setelah tiba disana seperti biasa aku memesan bakso favoritku hanya saja sekarang aku memesan dua porsi. Kemudian aku mengajak Ernie duduk dipingir jalan sembari menatap lalu lalang kendaraan disana.
Namun entah kenapa tiba-tiba Ernie berlari kearah jalan. “Ckitttttt… Brak”, terdengar suara rem serta tabrakkan yang takkan pernah aku lupakan. Sontak saja aku berlari menuju arah suara tersebut yang tak dapat kuterima ketika melihat Ernie terkapar bersimbah darah langsung saja aku berteriak minta tolong dan berusaha menyadarkannya. Tetapi yang membuatku semakin kaget adalah ketika aku melihat Ernie mendekap seorang balita di pelukannya. Ternyata Ernie berusaha menyelamatkan balita tersebut yang lalai dari pengawasan orang tuanya,meski balita tersebut tidak papa tetapi Ernie terluka parah.Bahkan darah mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Kemudian Ernie memberikan anak tersebut kepadaku, nampak anak itu tersenyum kepadaku. Mungkin dia tidak tau apa  yang baru saja ia alami.
“Aku akan membawamu kerumah sakit, aku mohon bertahanlah”, ucapku sembari berusaha mengangkat Ernie. Namun kemudian Ernie memegang tanganku seraya berkata “Sudah terlambat, ini sudah waktunya. Aku sangat bahagia karena setidaknya aku telah menyalamatkan sebuah senyuman hari ini. Aku tidak pernah menyesal karena telah dikaruniai penyakit ini, karena penyakit inilah setidaknya aku mengerti bahwa jalan yang aku lalui saat itu adalah salah, karena penyakit inilah aku dapat menjaga senyuman anak-anak itu dank arena penyakit inilah aku diberi kesempatan untuk mencintaimu”, dan saat itu pula ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Aku hanya dapat menangis sembari memanggil-manggil namanya saat itu. Ini semua bagai mimpi bagiku. Namun apalah dayaku tidak mungkin aku dapat mengembalikan nyawanya,
…………………………………………………………………………………….
Isak tangis pecah ketika upacara pemakaman Ernie dilangsungkan. Aku hanya mampu bersikap tegar sembari berusaha menenangkan Ibu Ernie yang dari tadi tak dapat membendung air matanya. Yang datang pada upacara pemakaman ini didominasi dari anak-anak panti sosial  serta teman-teman Ernie yang bekerja disitu , aku lihat semua anak-anak itu menangisi kepergian Ernie.
Sekarang yang dapat kuyakini adalah bahwa kamu tidak bisa memilih bagaimana keadaan ketika kamu lahir , tetapi kamu bisa memilih bagaimana cara kamu meninggal dan bagaimana cara orang mengingat kebaikanmu dan Ernie pergi bukan tidak meninggalkan apa-apa. Dia telah meninggalkan keyakinannya padaku, bahwa aku harus menjaga senyuman anak-anak ini dan kini giliran aku untuk menjaganya.
                                                                                    Bantul,27 September 2013

Penulis
 Yohanes Hadinata S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar